Jumat, 17 April 2015

Kucing dan Phusdo

Kenapa saya suka kucing dan apa itu "Phusdo" ? 

Pertama, kenapa saya suka kucing? Mari akan saya ceritakan asal muasalnya. Kembali masa-masa waktu saya masih di bangku SD sepertinya waktu itu usia saya 7 tahun.
Sekitar jam 8 atau 9 malam dan cuaca sedang hujan, sayup-sayup kita dengar suara kucing disamping rumah. Lalu saya, adik dan mama keluar untuk liat asal suara. Karena malam itu mati lampu dan ketika kita senterin ga ada penampakan itu kucing, jadi kita masuk kedalam rumah lagi. Kita berpikir mungkin sudah pergi kucingnya.

Keesokan paginya, adik saya teriak-teriak. Ternyata kucing semalam muncul di depan pintu, masih kecil sebulan kira-kira umurnya. Setelah merayu mama, kita dibolehin merawat anak kucing itu. Saya lupa waktu itu kami kasih nama siapa kucing itu. Sekarang kita sebut aja vien (baca=vin). Itulah kali pertama kami punya peliharaan.

Vien sangat menurut dan sangat disukai semua orang, mama pun jadi sayang. Kenapa jadi sayang, karena vien lucu, nurut, dan gemesin. Contohnya adalah selalu nganter saya dan adik kesekolah atau kemasjid sore hari nunggu di depan pintu sampai kita pulang. Kadang kita harus kurung dulu supaya ga ikut keluar rumah hihiii.

Jaman kami masih kecil waktu bulan puasa masih banyak orang-orang yang melakukan marathon pagi sesudah sholat subuh, jalan keluar ramai-ramai sampe matahari terbit menyusuri jalan sampai jauh lalu pulang lagi sambil nenteng belanjaan sayuran. Vien, selalu ikut marathon. Kejar-kejaran dengan adik yang pakai sepatu roda dan saya naik sepeda. Kalau dipangku naek sepeda vien selalu diam, ga takutan.

Kalau malam vien kadang tidur di kamar kita, nyempil. Kalau dia malam mau keluar dia akan garuk-garuk pintu minta keluar. Satu kebiasaan dia kalau adzan subuh, dia akan ngebangunin kita dengan mainin jempol kaki kita, kalau ga bangun jari-jari tangan, kalau ga bangun juga, maka dia akan cium hidung kita, dan pasti berhasil, berhasil karna kita kaget, jatung berdetak, mata langsung melek 100% hahhaaa.

Vien, kucing yang sangat gemesin. Dia makan semua apa yang kita makan, dikasih daun singkong pun mau. Selalu ikut kita kemana-mana. Saya sangat berhutang budi dengan vien. Kenapa? Karena dia sudah nyelamatin nyawa saya tiga kali. Pertama, waktu itu mama buat camilan di dapur dan saya ikut bantu, lalu saya mau buka pintu depan area dapur, tiba-tiba aja sebelum buka pintu bunyi keras suara pintu kayak ditendang, ternyata vien lagi begulat dengan ular. Saya langsung teriak, mama dateng dan bantu vien buat ngebunuh itu ular pake bambu. Kedua, sore-sore saya sedang main di area sekolah, sekolah masih ramai karena ada anak-anak yang masuk siang. Mama sedang ngobrol dengan guru-guru, adik saya lagi main kejar-kejaran. Waktu itu saya mau manjat pohon pentolan (kami nyebutnya seperti itu, nama aslinya tidak tau), tiba-tiba kucing saya lari keatas pohon mendahului saya lalu jatuh kebawah bersaman ular di mulutnya. Saya pun lari nangis, dan penjaga sekolahpun ikut bantu membunuh itu ular. Ketiga, waktu itu malam-malam saya, mama dan adik mau ke rumah tetangga. Di tengah-tengah jalan vien lari ke semak-semak yg akan saya lewati dan dia pun berantem lagi dengan ular. Nyawa saya selamat tiga kali oleh vien, gimana tidak tambah sayang kami ke vien.

Tetangga kami tiba-tiba punya anjing, billy namanya. Anjing nakal, dia lepas dari rantai dan mengejar vien sampai vien nangkring lama diatas pohon pisang. 

Setelah bertahun-tahun dirawat, vien akhirnya meninggal. Yang menyedihkan adalah vien mati diracun. Waktu itu saya dan adik sudah mencari kemana-mana karena vien ga pulang-pulang selama dua hari. Waktu lagi main bongkar pasang dengan adik, tiba-tiba adik mau nyari vien lagi, dan saya tidak ikutan. Adik saya pulang sambil nangis, vien ketemu terbujur kaku di jalanan sekolah. Lalu kita bawa vien pulang dan kita kubur di samping rumah persis seperti nguburin manusia. Tapi karena kurang dalam gali kuburannya, billy anjing nakal malam-malam merusak makam vien dan kaki vien ilang satu. Mama akhirnya turun tangan, jadilah makam vien lubang yang paling dalam dan atasnya dikasih ranting-ranting. Saya dan adik ga berenti nangis selama dua hari. Karena vien sangat berkesan dihati kami. Sayang tidak ada dokumentasi foto tentang vien hiksss.

Setelah vien tidak ada dan sampai sekarang saya dan adik masih merawat-merawat kucing dari indukan sampai generasi yang ke 7 saat ini. Kucing silih berganti, ada yang pergi melalang buana, ada yang pindah tempat karena tersingkir oleh induk lain. Tapi anehnya walau mereka pindah, kalau ketemu pasti kami tau dan mereka pun tau kalau kita dulu adalah yang memelihara mereka. Tingkah mereka pun lucu-lucu dan banyak pula kejadian lucu-lucu. Ada yang suka tidur di perut, di pundak, ada juga yang mirip seperti vien, warna bulunya pun sama. Dia suka ikut mama ke mushola kalau magrib dan menunggu di teras sampe pulang. Kalau kita makan dia akan naik ke pundak dan bersikap manja-manja. Tapi sayang dia melalang buana ntah kemana. Katanya suka begitu kalau kucing laki-laki. Cari jodoh ditempat lain hahhaaa.

Di Jakarta pun saya memelihara kucing. Kucing-kucing liar di daerah kostan saya. Sebenernya saya cuma dengan satu kucing, cuma ntah kenapa setiap saya kasih makan bermunculan kucing-kucing lainnya ada sampai sepuluh ekor. Tentu saya tidak tega kalau yang lain cuma melihat kucing yang saya suka makan mereka tidak. Kucing-kucing ini pun tau setiap pagi saya buka pintu atau ketika malam saya buka pagar, mereka langsung lari-lari bermunculan diteras kontrakan dan mengerumuni saya. Kadang saya suka berpikir bagaimana mereka tau itu saya dan pintu/pagar kontrakan saya yang kebuka. Bahkan orang-orang sekitar pun sampai hafal hehheee.

Ketika ada yang hamil, maka saya sediakan kardus diteras dan saya pelihara. Tapi sayang tidak pernah sampai gede anak-anaknya cuma sampai tiga atau enam bulan. Ada yang dibuang orang ketika saya pergi atau ketika saya pulang kampung. Saya mau marah, bingung mau nyalahin siapa, orang-orang ga ada yang ngaku. Sakitnya tuh disini hikssss. Tapi induknya masih ada, sampai dia lahiran lima kali anaknya cuma dua yang berhasil jadi gede.

Itulah cerita kenapa saya suka dengan kucing.

Phusdo di Lampung


Phusdo di Jakarta


Phusdo, pasti kalian tau itulah nama blog saya. Kenapa Phusdo dan apa artinya?

Kalau kita panggil kucing pasti kita panggil dengan phus.. Phuss.. 
Ntah kenapa waktu itu saya tambahkan kata-kata "do" dibelakangnya.
Jadilah kucing pertama saya di Jakarta saya beri nama phusdo (baca=phusdu). Jadi setiap kucing saya sekarang punya marga phusdo hahhaaa. Nama-namanya pun semua berawalan phusdo. Ada phusdo ci (phus kecil), phusdo de (phus gede), phusdo je (phus jelek), phudo kal (phusdo nakal), phusdo bem (phus tembem), dll

Phusdo menjadi merk saya untuk semua hal, dari email, password, bahkan setiap saya melihat kucing selalu saya panggil phusdo. Teman-teman saya pun tau itu. Jaman kuliah setiap makan siang atau lagi jalan-jalan dan makan, dan menu makanan ada yang ber sisa daging atau tulang pasti teman-teman saya langsung bilang dibungkus buat phusdo hahhaaa :D

Itulah cerita panjang tentang kucing saya, sebenernya masih banyak cerita. Cuma ini sudah terlalu panjang tulisannya, nanti pada males bacanya hihihiii. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar